Minggu, 25 Desember 2011

PENGERTIAN RAFIDHAH DAN SYI'AH MENURUT ULAMA SUNNI

Ummat Islam suka mencampuradukkan antara al-rafadh (berpaham Rafidhah) dan al-tasyayyu' (berpaham Syi'ah). Mereka tidak bisa membedakan kedua istilah tersebut. Ini disebabkan ketidakpahaman tentang akidah mereka sendiri. Mereka tidak mau mengkaji akidah Islam secara benar dari sumbernya yang asli dan otentik, yaitu al-Qur'an dan hadits, serta pendapat para sahabat Nabi, pengikutnya (tabi'in) dan generasi ketiga (tabi'it-tabi'in). Padahal, mereka itu tiga angkatan, yang dinilai oleh Rasulullah sebagai generasi terbaik ummat Islam.

Masalahnya, sebagian ummat tidak mau mempelajari Islam dan ilmunya. Akibatnya, akidah Islam mereka artikan secara tidak proporsional. Mereka tidak tertarik untuk menjaga kesucian dan kemurnian akidah Islam. Bahkan mereka hampir tidak mengenal satu pun buku yang membicarakan akidah Sunni atau Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Akibatnya, mereka akan terjebak tatkala membaca buku-buku tafsir dan hadits, yang mengandung kisah-kisah israiliyyat dan kisah-kisah palsu. Atau, mereka memahami akidah Islam dari literatur-literatur baru tanpa dasar yang kokoh dan benar. Karena itu, mereka terputus dari ulama salaf salih, yang mendapatkan kerelaan dari Allah.


Karena ketidaktahuan itu, pulalah yang membuat mereka menganut paham yang berlawanan dengan akidah ulama salaf. Misalnya, tanpa disadari, mereka menganut ajaran kaum Rafidhah, Qadariyah, Khawarij dan Jahamiyah. Bahkan, ketidaktahuan itu berakibat buruk, Ketika anda mencoba meluruskan pemahaman mereka, dan mengembalikannya kepada pemahaman dan akidah salaf yang benar, mereka tidak memperdulikan koreksi anda. Mereka telah menjadi penganut fanatik.

Kenyataan ini dikhawatirkan melanda ummat Islam. Apalagi bila para ulama tidak berperan-serta mengajarkan dan menanamkan akidah kepada setiap Muslim. Ilmu akidah mestinya diberikan lebih dini daripada ilmu-ilmu lain, seperti dilakukan oleh Rasulullah.

Akibat logis dari strategi, pendidikan yang salah selama ini --tidak menanamkan akidah lebih dini-- maka banyak ummat Islam resah atau bingung menghadapi paham-paham yang, sebelumnya, dipandang jelas dan tuntas oleh kaum Sunni. Paham-paham yang mapan itu seharusnya tetap tertanam di hati kaum Muslimin saat ini. Mereka membutuhkan itu, karena sejarah berulang dengan sendirinya. Untuk itu, saya merasa terdorong menjelaskan pengertian al-rafadh dan al-tasyayyu'.

1. Pengertian Etimologi1

Menurut bahasa, rafadh berarti meninggalkan, menyempal (taraka). Sedangkan al-Rafidhah berarti: sempalan atau salah satu golongan (firqah) dari Syi'ah. Menurut al-Ashmu'i, disebut demikian, karena mereka menyempal dari salah seorang imam Syi'ah, yaitu Zayd ibn 'Ah.

Tasyuyyu',2 menurut bahasa berarti sikap menganut atau mendukung. Syi'at al-rijal berarti penganut dan pendukung seseorang. Jadi, kata-kata tasyayya'arrajul, artinya; seorang lelaki menganut paham Syi'ah.

Setiap masyarakat memiliki sesuatu pandangan. Sebagian mereka mengikuti pendapat yang lain. Mereka adalah satu kelompok, seperti firman Allah: "Sebagaimana dilakukan terhadap orang-orang yang serupa dengan mereka pada masa lalu." (QS, Saba'; 34:54)

2. Pengertian Istilah

Tadi kita telah membedakan antara istilah rafadh dan tasyayyu' menurut pengertian bahasa. Kini kita akan menjelaskan perbedaan keduanya dari segi istilah dan syari'at.

Ada perbedaan yang menyolok antara kedua istilah tersebut. Ini perlu kita ketahui, bila hendak menolak tuduhan palsu kaum Rafidhah terhadap kaum Sunni. Kaum Rafidhah selalu mengacaukan pengertian rafadh di kalangan ummat Islam, dan menyelewengkan makna kecintaan ummat kepada keluarga Nabi. Ini mereka lakukan untuk merusak kesucian Islam dengan syi'ar yang palsu.

Menurut syari'at agama, istilah rafadh berarti sikap memuliakan 'Ali ibn Abi Thalib lebih dari Abu Bakar dan 'Umar. Menurut mereka, 'Ali lebih utama dibanding mereka berdua. Karena itu, 'Ali lebih pantas menduduki kursi kekhalifahan. Dalam hal ini, mereka tidak sampai mencaci maki Abu Bakar dan 'Umar.

Tapi, bila sikap tersebut diikuti oleh rasa benci kepada Abu Bakar dan 'Umar, atau malah memaki mereka, ini disebut rafadh ekstrim. Tak soal, apakah makian itu dengan bahasa yang jelas, ataukah hanya dengan bahasa isyarat. Dan jika sikap ini diikuti pula dengan kepercayaan bahwa 'Ali ibn Abi Thalib atau keturunannya akan muncul kembali ke dunia setelah mereka wafat, maka inilah rafadh yang paling ekstrim.

Sedangkan istilah tasyayyu', menurut syari'at agama berarti sikap mencintai 'Ali ibn Abi Thalib dan memandangnya lebih utama dari para sahabat Nabi yang lain --kecuali Abu Bakar dan 'Umar. Jika 'Ali lebih ditokohkan daripada Abu Bakar dan 'Umar, maka itu namanya paham rafadh.

Menurut ibn Hajar,3 Tasyayyu' adalah sikap mencintai 'Ali dan memandangnya lebih utama dari para sahabat lain. Dan bila di antara sahabat-sahabat itu termasuk Abu Bakar dan 'Umar, maka tasyayyu'nya ekstrim, dan biasanya disebut paham Rafidhah. Tetapi jika sikap tadi tidak memandang 'Ali lebih utama daripada Abu Bakar dan 'Umar, maka itu hanya disebut Syi'ah. Namun, jika sikap tersebut ditambah rasa benci dan makian terhadap Abu Bakar dan 'Umar, maka itu menjadi paham rafadh ekstrim. Kalau kemudian dilengkapi dengan kepercayaan bahwa 'Ali bakal muncul kembali ke dunia, maka rafadh-nya menjadi sangat ekstrim."

Kami telah menjelaskan pengertian rafadh dan tasyayyu', baik secara etimologis maupun terminologis. Perbedaannya telah jelas dan nyata. Kini tiba saatnya membicarakan penganut paham Rafidhah dan Syi'ah. Siapakah mereka?

Rafidhah adalah sekelompok penganut Syi'ah yang memandang 'Ali dan anak cucunya lebih utama daripada Abu Bakar dan 'Umar. Mereka tidak menyukai kedua sahabat Nabi yang khalifah itu, bahkan mencaci-makinya. Kaum Rafidhah mempercayai, para imam itu ma'shum alias bebas-salah. Mereka memberikan segala kehormatan Nabi (selain kenabian) kepada para imam. Mereka juga mempercayai kedatangan kembali imam Muntadhar (imam tertunggu) yang sementara ini menghilang, tanpa meninggal. Mereka mempunyai pemikiran khusus, yang sangat berbeda dari dasar pemikiran Sunni.

Adapun kaum Syi'ah, mereka itu pencinta berat keluarga Nabi (ahl al-bayt). Mereka lebih mengutamakan Ahl al-Bayt daripada sahabat yang bukan keluarga Nabi. Tetapi mereka tidak membenci, memaki atau mengkafirkan para sahabat, terutama Abu Bakar dan 'Umar.

Dalam Minhaj al-Sunnah, Ibn Taimiyyah4 mengemukakan alasan mengapa ada sekte Syi'ah yang disebut Rafidhah. Menurut ibn Taimiyyah, sejak Zayd5 tampil ke gelanggang politik, Syi'ah terpecah menjadi dua, yaitu golongan Rafidhah dan golongan Zaidiyyah. Ketika ditanya mengenai Abu Bakar dan 'Umar, Zaid menyatakan simpatinya kepada kedua sahabat itu. Zaid mendoakan keduanya. Sekelompok pengikutnya kemudian meninggalkan Zaid. Zaid berkata kepada mereka: "Apakah kalian menyempal dariku?" Sejak mereka menyempal dari Zaid itu, istilah Rafidhah muncul. Adapun kaum Syi'ah yang tetap setia kepada Zaid, mereka itu diberi nama Zaidiyah, artinya, yang memihak kepada Zaid.

Ibn Taimiyyah juga menjelaskan, 'Ali ibn Abi Thalib pernah berpidato di mimbar, di kota Kufah. Katanya: "Ummat Islam terbaik setelah Nabi Muhammad adalah Abu Bakar dan 'Umar." Orang Syi'ah yang mengenal 'Ali dan hidup seangkatan dengannya, tidak pernah berselisih paham mengenai keutamaan Abu Bakar dan 'Umar. Tetapi mereka berbeda pendapat menentukan siapa yang lebih utama antara 'Utsman dan 'Ali. Itu diakui oleh para tokoh Syi'ah yang terdahulu dan yang belakangan.

Abul Qasim al-Balhi juga menyebutkan sama. la menceritakan, seseorang bertanya kepada Syarik ibn 'Abdillah, "Siapa yang lebih utama di antara Abu Bakar dan 'Ali? "Abu Bakar," jawab Syarik.

Ketika ditanya, mengapa dia menjawab begitu, padahal dia seorang Syi'ah, Syarik menjawab bahwa orang yang tidak berkata begitu bukanlah seorang Syi'ah. "Demi Allah, 'Ali ibn Abi Thalib berkata di atas mimbar: 'Ingatlah, sesungguhnya ummat Islam yang terbaik setelah Nabi adalah Abu Bakar, kemudian 'Umar." "Lalu mengapa?" tanya Syarik, "anda menolak pernyataan 'Ali ini? Bagaimana anda bisa mendustakan 'Ali? Sungguh, 'Ali bukanlah pendusta atau pembohong."

Karena tidak mengerti, seringkali orang menyebut rafadh bagi pencinta keluarga Nabi, tanpa membedakan antara istilah rafadh dan tasyayyu'. Ada sya'ir (oleh Imam Syafi'i, peny.) begini: "Jika mencintai Ahl al Bayt disebut Rafadh, maka saksikanlah bahwa aku penganut paham Rafidhah." .

Ibn Katsir menceritakan,6 pada suatu saat kaum Syi'ah berkumpul bersama Zaid. Mereka bertanya kepada Zaid: "Apa maksud perkataan anda, 'Allah memberi rahmat kepada anda pada (diri) Abu Bakar dan 'Umar?" Zaid menjawab: "Semoga Allah mengampuni Abu Bakar dan 'Umar. Aku tidak pernah mendengar seorang pun dari keluargaku yang berlepas tangan dari mereka berdua. Aku tidak pernah mengatakan tentang mereka kecuali yang - baik-balk. Aku ingin mengajak anda kembali kepada Kitab Allah dan Sunnah Rasul, menghidupkan sunnah Nabi dan menumpas bid'ah. Jika mau mendengarkan, kalian dan aku akan memperoleh kebaikan. Tetapi bila kalian membangkang, maka aku bukanlah penolong kalian."

Mendengar nasihat itu, kontan orang-orang Syi'ah itu bubar meninggalkan Zaid. Mereka menarik kembali bai'at mereka. Sejak hari itu, mereka disebut kaum Rafidhah. Adapun orang-orang yang mendengarkan dan menerima nasihat Zaid, mereka disebut Zaidiyyah. Penduduk Kufah umumnya penganut paham Rafidhah, sedangkan warga Makkah umumnya pengikut madzhab Zaidiyah. Baiknya, kaum Zaidiyah tetap menghargai Abu Bakar dan 'Umar. Jeleknya, mereka lebih mengutamakan 'Ali daripada kedua sahabat tadi. Padahal 'Ali tidak lebih utama dari Abu Bakar dan 'Umar. Bahkan, mungkin tidak -lebih utama daripada 'Utsman, menurut paham Sunni yang benar dan sahih.

Menurut al-Mas'udi,7 Zaid ibn 'Ali pernah berkata kepada kaum Syi'ah yang menuntut agar Zaid berlepas tangan dari Abu Bakar dan 'Umar. Kata Zaid: "Abu Bakar dan 'Umar itu pemimpin kakekku. Maka aku tidak bisa melupakan mereka." Mendengar itu, orang-orang Syi'ah bubar, menyempal.


Catatan kaki:

1 Mukhtar ash-Shihah, sv. r-f-dh

2 Idem, sv. sy-y-'

3 Hadi as-Sari, mukaddimah Fathul Bari, juz 2, hal.

4 Minhaj as-Sunnah, juz 1, hal.8.

5 Zaid ibn 'Ali ibn Husayn. Peristiwa di atas terjadi sekitar tahun 122 H pada masa akhir kekhalifahan Hisyam bin Abdul Malik.

6 Al-Bidayah wan-Nihayah, juz 9, hal. 230 dan 329.

7 Muruj adz-Dzahab, 3/220.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar