Minggu, 25 Desember 2011

ABDULLAH AZZAM INSPIRATOR PARA MUJAHID

“Sesungguhnya sejarah Islam tidaklah ditulis melainkan dengan darah para syuhada, dengan kisah para syuhada dan dengan teladan para syuhada” (Syekh Abdullah Azzam)

Abdullah Azzam dilahirkan di sebuah kampung Uatara Palestina yang dikenal sebagai selat Al-Harithia
di daerah Jenin pada tahun 1360 H yang bertepatan dengan tahun 1941 M. Bapaknya bernama Al Haj Yusuf Mustaffa Azzam. Ibunya bernama Zakiyah Shalih Husain Al Ahmad. Abdullah Azzam terlahir dari latar belakang keluarga yang baik. Begitu pula dengan agamanya. Keluarganya sangat gembira atas kelahiranya, Abdullah Yusuf Azzam.

Pendidikannya
Syaikh Abdullah Azzam dikenal karena ketekunan dan keungguhanya sejak kecil. Ia memperoleh pendidikan dasar dan menengah di desanya. Kemudian melanjutkan pendidikan di sekolah tinggi Pertanian Khadorri hingga memperoleh gelar Diploma. Meskipun ia termuda di antara teman-temanya, namun ia yang paling pandai dan paling pintar. Setelah menamatkan pendidikanya di Khadorri,
Abdullah Azzam bekerja sebagai guru di desa Adder, Yordania selatan. Kemudian ia kembali menuntut ilmu di fakultas Syariah Universitas Damaskus Suriah hingga memperoleh gelar B.A(sarjana muda) di bidang syariah pada tahun 1966.
Ketika tentara yahudi merebut Tepi Barat pada tahun 1967, Syekh Abdullah Azzam memutuskan untuk pidah ke Yordania. Ia tidak ingin hidup di Palestina yang berada di bawah oendudukan Yahudi. Melihat bagaimana Tank-tank Izrael maju memasuki tepi barat tanpa mendapatkan perlawanan yang berarti menimbulkan perasaan bersalah dalam dirinya sehingga semakin mantap untuk hijrah. Pada akhir dekade 1960an, dari Yordania beliau bergabung dalam Jihad menentang pendudukan Izrael atas Palestina.
Tidak lama kemudian beliau pergi belajar ke Mesir dan memperoleh gelar Master dalam bidang Syariah di Universita Al-Azhar, Kairo. Pada tahun 1970, setelah kekuatan PLO diusir keluar dari Yordania, Beliau menjadi dosen di Universitas Yordania di Amman. Setahun kemudian, tahun 1971 beliau memperoleh beasiswa dari Universitas Al-Azhar dimana beliau melanjutkan pendidikan S3 dan memperoleh gelar Ph.D. dalam bidang Pokok-pokok Hukum Islam (Ushul Fiqh) Tahun 1973. Selama di Mesir inilah beliau mengenal keluarga Syuhada Sayyid Qutb (1906-1966).
Syekh Abdullah Azzam cukup lama turut serta dalam Jihad Palestina. Namun ada hal yang tidak disukainya, yaitu orang-orang yang terlibat didalamnya sangat jauh dari Islam. Beliau menggambarkan bagaimana orang-orang ini berjaga-jaga sepanjang malam sambil bermain kartu dan mendengarkan musik, dan menganggap bahwa mereka sedang menunaikan Jihad untuk membebaskan Palestina. Syekh Abdullah Azzam menyebutkan juga meskipun ada ribuan orang di basis-basis pemukiman, tetapi jumlah orang yang hadir untuk sholat berjamaah bisa dihitung dengan satu tangan saja. Beliau berusaha untuk mendorong mereka untuk menerapkan Islam sepenuhnya.

Hijrah ke Arab Saudi
Suatu hari Syekh Abdullah Azzam bertanya pada seorang mujahid, “Agama apa yang ada dibelakang revolusi Palestina?” Mujahid itu menjawab dengan jelas dan gamblang:”Revolusi ini tidak memiliki dasar agama apapun”. Habislah kesabaran Abdullah Azzam. Beliau kemudian meninggalkan Palestina, pindah ke Arab Saudi dan mengajar di berbagai Univerasitas disana. Saat ia menyadari bahwa hanya dengan kekuatan yang terorganisir umat ini bisa menggapai kemenangan, maka Jihad dan senjata menjadi kesibukan untuk mengisi waktu luangnya.

Hijrah ke Pakistan
Pada tahun 1980, ketika masih di Saudi Arabia, Abdullah Azzam memperoleh kesempatan berjumpa dengan satu delegasi Mujahidin Afghanistan yang datang untuk menunaikan Ibadah Haji. Segera Beliau tertarik dengan kelompok ini dan ingin mengetahui lebih banyak lagi mengenai Jihad Afghanistan. Ketika dijelaskan kepadanya, ia merasa inilah jalan yang sejak lama ia cari. Ia segera melepaskan jabatanya sebagai dosen di Universitas King Abdul Aziz Jeddah Saudi Arabia,dan berangkat menuju Islamabat Pakistan.

Saat-saat pertama berada di Pakistan, beliau ditunjuk untuk memberikan kuliah di Internasional Islamic University di Islamabad. Namun ini tidak berlangsung lama, karena beliau memutuskan untuk meninggalkan Universitas tersebut agar bisa mencurahkan seluruh waktu dan energinya bagi jihad di Afghanistan. Pada permulaan dekade 1980an, Syekh Abdullah Azzam langsung turun ke medan Jihad Afghanistan. Di Jihad inilah beliau merasa puas bisa memenuhi kerinduan dan kecintaan yang tak terlukiskan untuk berjuang di jalan Allah SWT, persis seperti suatu kali Rasulullah SAW bersabda: ”Berdiri satu jam dalam pertempuran di jalan Allah SWT lebih baik daripada berdiri menunaikan sholat selama 60 tahun.”(Al Hadist).
Terinspirasi oleh Hadist ini Syekh Abdullah Azzam beserta keluarganya memutuskan pindah ke Pakistan agar lebih dekat dengan medan Jihad. Tidak lama setelah itu beliau pindah lagi dari Islamabad ke Peshawar.

Di Peshawar, bersama dengan Usama bin Laden yang juga teman dekatnya, Syekh Abdullah Azzam mendirikan Baitul Anshor (Mujahideen Service Bureu / kantor pelayanan Mujahidin) dengan tujuan untuk menawarkan semua bantuan yang memungkinkan bagi Jihad Afghanistan dan para Mujahid dengan cara mengadakan dan memanage berbagai proyek yang menunjang Jihad.
Kantor ini juga menerima dan melatih para sukarelawan (Foreign Mujahideen) yang berbondong-bondong datang ke Pakistan untuk ikut serta dalm Jihad dan mengatur penempatan mereka di garis depan.

Berjihad ke Afghanistan
Dapat diduga, semua hal ini masih belum cukup memuaskan keinginan Syekh Abdullah Azzam yang menggebu-gebu berjihad. Keinginan inilah yang akhirnya membawanya pergi ke garis depan. Di medan pertempuran Syekh Abdullah Azzam mengambil peranan dengan sikap kesatria dalam perjuangan yang poenuh dengan pengorbanan. Di Afghanistan beliau jarang menetap di suatu tempat. Beliau selalu berkeliling ke seluruh pelosok negeri mengunjungi hampir seluruh propinsi dan wilayah seperti Logar, Kandahar, Pegunungan Hindukush, Lembah Panshir, Kabul dan Jalalabad. Dalam kunjungan ini, Syekh Abdullah Azzam menyaksikan secara langsung kepahlawanan orang-orang awam yang telah mengorbankan segala apa yang dimiliki termasuk jiwa mereka demi jayanya Din Islam. Di Peshawar, Setelah kembali dari berkeliling, Syekh Abdullah Azzam selalu berbicara tentang Jihad secara kontinyu. Beliau elalu berdoa agar para komanda Mujahidin yang terpecah belah dapat bersatu padu. Beliau selalu mengundang orang-orang yang belum bergabung dalam pertempuran untuk memanggul senjata dan maju ke garis depan sebelum terlambat.
Kehidupan Syekh Abdullah Azzam sangat dipengaruhi oleh Jihad Afghanistan. Beliau sangat besar pengaruhnya pada Jihad ini. Beliau menjadi salah satu tokoh yang paling menonjol dan berpengaruh bersama dengan pemimpin-pemimpin bangsa Afghanistan lainya. Beliau sangat besar pengaruhnya dalm Jihad ini. Beliau tidak tanggung-tanggung mempromosikan perjuangan Afghanistan ke seluruh dunia, khususnya kalangan umat Islam. Beliau berkeliling dunia, menyampaikan panggilan pada kaum Muslimin untuk beraksi mempertahankan agama dan tanah Muslim. Beliau menulis sejumlah buku tentang Jihad, seperti Joint the Caravan, Signs of Ar-Rahman in the Jihad of the Afgan, Defence of the Muslim Land and Lovers of the Paradise Maidens.

Beliau turun langsung ke medan Jihad Afghanistan, meskipun usia beliau telah lebih dari 40 tahun. Beliau menjelajahi Afghanistan, dari utara ke selatan , dari timur ke barat, menembus salju, mendaki gunung, di bawah panas terik matahari dan dingin membekukan tulang, dengan menunggang keledai maupun berjalan kaki. Banyak pemuda yang bersama beliau kelelahan, namun Syekh Abdullah Azzam tidak. Beliau mengubah pandangan umat Islam terhadap Jihad di Afghanistan dan menjadikan Jihad ini sebagai perjuangan yang Islami yang merupakan kewajiban seluruh umat Islam di dunia. Hail dari usaha ini adalah Jihad Afghanistan menjadi Universal dimana umat Islam dari seluruh penjuru dunia turut serta. Para pejuang muslim dari seluruh penjur dunia secara sukarela berdatangan ke Afghanistan untuk memenuhi kewajiban Jihad dan membela saudara-saudara Muslimin dan Muslimah mereka yang tertindas.
Kehidupan Syekh Abdullah Azzam hanya berkisar pada satu tujuan, yaitu menegakkan hukum Allah SWT di muka bumi ini. Dalam rangka melaksanakan tugas suci tersebut Syekh Abdullah Azzam mengkonsentrasikan kepada Jihad (perjuangan bersenjata unutk menegakkan Islam). Baliau berkeyakinan bahwa Jihad wajib dilaksanakan sampai Khilafah Islamiyah ditegakkan sehingga cahaya Islam menerangi seluruh dunia.
Beliau menolak jabatan di beberapa Universitas dengan menyatakan bahwa dirinya tidak akan pernah meninggalkan Jihad kecuali jika gugur di medan perang atau terbunuh. Beliau selalu menekankan kembali bahwa tujuanya yang terakhir adalah membebaskan tanah suci Palestina. Dalam hal ini beliau menyatakan, “Saya tidak akan meninggalkan tanah Jihad kecuali karena 3 hal. Pertama saya terbunuh di Afghanistan, Kedua saya terbunuh di Pakistan, Ketiga saya diborgol dan diusir dari Pakistan.”
Jihad Afghanistan telah membuat Abdullah Azzam menjadi penyangga utama dalam gerakan Jihad di jaman modern. Dengan turun langsung dalam Jihad ini dan mempromosikanya serta menjelaskan kendala-kendala yang menghambat gerakan Jihad, beliau memiliki peranan yang sangat berarti dalam meluruskan pendapat umat Islam tentang Jihad dan perlunya menegakkan Jihad. Beliau menjadi panutan bagi generasi muda yang menyambuit panggilan Jihad. Beliau amat mementingkan Jihad.
Beliau pernah berkata, “Saya merasa seolah olah berumur 9 tahun. Tujuh setengah tahun dalam Jihad di Afghanistan dan satu setengah tahun dalam Jihad di Palestina. Ia tahun lainya tidak berarti sama sekali.” Dari atas mimbar Syekh Abdullah Azzam berulang kali menekankan keyakinanya, “Jihad tidak boleh ditinggalkan sampai hanya Allah SWT saja yang disembah, Jihad akan terus berlangsung sampai kalimat Allah SWT ditinggikan. Jihad ampai semua orang yang tertindas dibebaskan. Jihad untuk melindungi kehormatan kita dan merebut kembali tanah kita yang dirampas. Jihad adalah jalan untuk mencapai kejayaan abadi.”

Hal-hal yang menonjol dari Syekh Abdullah Azzam
Syekh Abdullah Azzam adalah seorang teladan. Senantiasa berperilaku Islami, gemar beramal sholeh. Mempunyai ketakwaan yang tinggi. Hidupnya sederhana. Beliau senantiasa menjalin Silaturahmi.

Mendengarkan pendapat para pemuda. Beliau amat disegani dan tidak terbersit sedikitpun rasa takut di dalam hatinya. Beliau senantiasa sehari puasa sehari tidak dan juga selalu mangajak yang lain untuk berpuasa senin kamis. Syekh Abdullah Azzam adalah orang yang selalu berterus terang, tulus, dan mulia. Beliau tidak pernah mencaci orang lain atau berbicara yang tidak baik mengenai orang lain.

Kelurusan Akidahnya
Akidah beliau adalah aqidah Ahlu sunnah wal jamaah. Beliau beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab dan Rasul Nya, dan beriman kepada kebangkitan setelah mati dan beriman kepada Qadar yang baik dan buruk. Beliau memahami iman sebagaimana pemahaman Ahlu sunnah, yaitu I'tiqad (pengakuan) di dalam hati, yang diucapkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal (perbuatan) anggota badan. Iman ditambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan.

Adapun akidah beliau berkenaan pelaku dosa besar adalah pertengahan antara pendapat Murji'ah dan Haruriyyah (Khawarij) dan Mu'tazilah. Beliau tidak sependapat dengan Khawarij yang mengatakan bahwa pelaku perbuatan dosa besar adalah kafir. Jadi beliau bersih dari tuduhan Khawarij yang dialamatkan kepadanya. Beliau juga tidak sependapat dengan Murji'ah bahwa maksiat itu tidak membahayakan kewujudan iman, dan beliau tidak sependapat dengan Mu'tazilah yang mengatakan bahwa pelaku perbuatan dosa besar berada di satu tempat antara dua tempat, yakni bukan di surga dan bukan pula di neraka. Menurut beliau pelaku dosa besar jika ia mati, maka urusan sepenuhnya di tangan Allah, jika dikehendaki Allah mengampuninya atau menyiksanya.

Kesyahidannya
Selama Jihad Afghanistan berlangsung, beliau telah berhasil menyatukan berbagai kelompok Mujahidin dalam Jihad. Tentu saja kebanggaan beliau terhadap Islam menimbulkan rasa benci di kalangan musuh agama, sehingga musuh membuat rencana untuk menghabisi nyawa beliau. Pada November 1989 sejumlah bahan peledak TNT diletakkan di bawah mimbar dimana beliau selalu menyampaikan khutbah Jum'at. Demikian besarnya jumlah bahan peledak tersebut sehingga seandainya meledak akan menghancurkan seluruh masjid termasuk apa saja dan siapa saja yang ada di dalamnya. Ratusan Muslimin dapat terbunuh. Namun Allah SWT memberikan perlindunganNya dan bom tersebut tidak meledak. Musuh-musuh pun semakin berhasrat melaksanakan rencana gilannya. Mereka mencobanya sekali lagi di Peshawar, tidak lama berselang setelah kejadian itu.
Musuh-musuh Allah SWT meletakkan tiga bom di jalan sempit dimana hanya bisa dilewati satu mobil saja. Jalan tersebut adalah jalan yang biasa dilalui oleh Syekh Abdullah Azzam pada waktu menunaikan sholat Jum'at. Pada hari Jum'at itu Syekh Abdullah Azzam bersama dengan kedua anaknya, Ibrahim dan Muhammad, serta salah seorang anak syuhada' Syekh Tamim Adnani (salah seorang pahlawan Jihad Afghanistan lainya), melalui jalan tersebut. Mobil pun berhenti dimana bom yang pertama berada, dan Syekh Abdullah Azzam turun untuk meneruskan perjalanan dengan berjalan kaki. Musuh-musuh yang sudah menanti segera memicu bom yang telah mereka persiapkan tersebut. Bunyi ledakan dahsyat mnengguncang hebat terdengar di seluruh penjuru kota. Orang-orang berhamburan keluar dari masjid dan menyaksikan pemandangan yang mengerikan. Hanya sedikit saja yang tersisa dari kendaraan yang hancur lebur. Tubuh anaknya yang kecil, Ibrahim, terlempar ke udara sejauh eratus meter, demikian pula kedua anak lainya, beterbangan pada jarak yang hampir sama. Potongan-potongan tubuh mereka tersebar di pohon-pohon dan kawat-kawat listrik. Sementara tubuh As-Syahid Syekh Abdullah Azzam tersandar di dinding, tetap utuh dan tidak cacat sama sekali, kecuali sedikit darah terlihat mengalir dari mulut beliau. Seperti itulah Allah SWT berkehendak agar Syekh Abdullah Azzam meninggalkan dunia ini dalam keadaan syahid menuju haribaanNya. Syekh Abdullah Azzam wafat pada hari Jum'at 24 November 1989 pukul 12.30 siang.

Ledakan itu telah mengakhiri perjalanan hidup Syekh Abdullah Azzam di dunia yang telah beliau lalui dengan baik dalam perjuangan. Hal ini semakin menjamin kehidupannya yang sebenarnya dan abadi di taman surga. Dengan cara seperti inilah pahlawan besar dan Penggerak Kebangkita Islam meninggalkan medan Jihad dunia ini, dan tidak akan pernah kembali lagi. Beliau dimakamkan di makam para syuhada' Pabi di Peshawar Pakistan, dimana beliau bergabung bersama-sama dengan ratusan syuhada' lainya.
Semoga Allah SWT menerima beliau sebagai syuhada' dan menganugerahinya tempat tertinggi di surga (Amin). Pertempuran yang telah beliau lalui dan telah beliau perjuangkan tetap berlanjut melawan musuh-musuh Islam. Tidak satupun tanah Jihad di seluruh dunia, tidak seorangpun Mujahidin yang berjuang di jalan Allah SWT yang tidak terinspirasi oleh hidup, ajaran, dan karya-karyanya. (Dikutip dari An-Najah)

http://islamwillneverdie.blogspot.com/2010/08/abdullah-azzam-inspirator-para-mujahid.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar