Sabtu, 24 Desember 2011

: : Yaa Ikhwatiy fillaah…inilah transaksi itu : :

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang2 mukmin diri dan harta mereka, dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang di jalan Allah, mereka lalu membunuh atau terbunuh…..” (QS. At Taubah: 111)

Inilah transaksi kita dengan Allah, transaksi sepanjang zaman sampai kita benar2 menghadapNya. Transaksi seperti apa? Ya itulah…transaksi atas apa yang kita miliki (bahkan jiwa kita sendiri) untuk dipersembahkan di jalanNya. Dan balasan yang diberikan Allah pun sangat menggiurkan (bagi hati orang2 mukmin)..JANNAH!

Inilah transaksi itu…di mana Allah telah menawarkan dagangannya dengan mahal, maka wajib bagi hamba untuk mendahulukan pembeliannya dengan sesuatu yang termahal yang ia miliki, yakni jiwa. Padahal Allahlah pemilik seluruh jiwa, namun Allah tetap membelinya dari orang2 mukmin dengan jannah sebagai gantinya…Demi Allah ya ikhwatiy fillaah, Allah benar2 Maha Pemurah!


Namun, sudahkah kita menunaikannya?

Bukankah telah jelas firman Allah ini, kemuliaan bagi mujahideen di jalanNya:

“Apakah (orang-orang) yang memberi minuman kepada orang-orang yang mengerjakan dan mengurus Masjidil Haram, kamu samakan dengan orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta berjihad dijalan Allah? Mereka tidak sama di sisi Allah. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang zalim” (QS at Taubah: 19)

“Tidaklah sama antara mu’min yang duduk (yang tidak turut berperang) yang tidak mempunyai udzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Alah dengan harta dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar” (An Nisa’ : 95)

Bukankah ini tawaran yang menarik dan menggiurkan?

Merenung sejenak..kondisi kaum muslimin yang terhinakan dan terjajah di hampir seluruh belahan bumi ini. Kehormatan Islam dan ummatnya dilecehkan. Syari’atNya dibabat habis. Inilah fakta yang terjadi. Lalu bagaimanakah posisi jihad ini?

“Dan mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang yang lemah, baik laki-laki, perempuan maupun anak2 yang berdo’a, ‘Ya Tuhan kami, keluarkan kami dari negeri ini (Mekah) yang penduduknya zalim. Berilah kami pelindung dari sisiMu, dan berilah kami penolong dari sisiMu” (QS. An Nisaa’: 75)

Ya, mengapa tidak berperang…padahal kewajibannya sudah jelas? Mengapa masih banyak kaum muslimin–mungkin tanpa sadar diri kita sendiri–yang enggan melaksanakan kewajiban ini? Mengapa yaa ikhwaaniy?

Bukankah perintah Allah ini jleas, dan ancamannya pun jelas??

“Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa apabila dikatakan kepada kalian, ‘berangkatlah (untuk berperang) di jalan Allah’, kamu merasa berat dan ingin tinggal di tempatmu? Apakah kamu lebih menyenangi kehidupan di dunia dari pada kehidupan di akhirat? Padahal kenikmatan hidup di dunia ini (dibandingkan dengan kehidupan) di akhirat hanyalah sedikit. Jika kamu tidak berangkat (untuk berperang), niscaya Allah akan menghukum kamu dengan azab yang epdih dan menggantikan kamu dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan merugikanNya sedikit pun. Dan Allah Maha kuasa atas segala sesuatu” (At tawbah: 38-39)

Lalu, dengan alasan apa kita hendak berhujjah pada Allah kelak di hari penghisaban, jika kita enggan menunaikan kewajiban ini, padahal dirimu tidaklah termasuk mereka-mereka yang terkena udzur dari kewajiban ini?

Koreksilah…apakah antum–yaa ikhwan–yang belum berjihad termasuk dalam ayat2 Allah ini ( at tawbah: 91-92 ; Al fath: 17 ; an Nur: 61)??

Atau apakah engkau merasa sendiri dalam menjalankan jihad ini? sehingga hatimu pun maju mundur dibuatnya?

Ingatlah saudaraku, tha’ifah manshuroh itu akan senantiasa ada di bumi Allah ini..meski keberadaan mereka jauh dari kita.

“Dian (Islam) ini akan senantiasa tegak, dengan adanya sekelompok kaum muslimin yang tetap berperang karenanya, sampai hari kiamat” (Hadits dari Jabir bin Samurah dalam Shahih Muslim)

Maka tidaklah engkau sendiri di jalan ini, karena mujahideen itu akan senantiasa ada.

Dan bukankah kewajiban itu telah ada, sekalipun engkau hanya seorang diri?

“Maka berperanglah engkau (Muhammad) di jalan Allah, engkau tidaklah dibebani melainkan atas dirimu sendiri…” (An nisa’:84)

Lalu alasan apakah yang membuat dirimu enggan dari kewajiban ini? Apakah engkau akan beralasan tak ada senjata atau tak ada dana untuk operasi suatu jihad? Maka, demi Allah ya ikhwatiy…bumi Allah itu sangat luas, dan rizkiNya pun sangat melimpah jika engkau mau berusaha karenanya.

Dan beri’dadlah dalam rangka menunaikan transaksi ini, sungguh Allah telah memerintahkannya untuk kita..

“Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki dan dari pasukan berkuda…” (Al Anfal: 60)

Dalam menafsirkan ayat ini, terdapat hadits Uqbah bin Amir, Nabi bersabda–ketika itu beliau di atas mimbar–: “Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, ingatlah kekuatan itu melempar, ingatlah kekuatan itu melempar, ingatlah kekuatan itu melempar, ingatlah kekuatan itu melempar” (HR. Muslim)

Teruslah beri’dad, karena ini perintah Allah dalam rangka menunaikan kewajiban jihad…dan jangan pernah melailaikannya atau meninggalkannya

“Barangsiapa berlatih melempar kemudian melupakannya, maka ia bukan dari golonganku” (HR. Ahmad)

Dan sungguh, orang2 yang menginginkan melaksanakan jihad, namun melalaikan i’dad ini atau enggan melaksanakan i’dad, sungguh inilah sifat2 orang2 munafik…

“Dan jika mereka mau berangkat, niscaya mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Dia melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan (kepada mereka), ‘Tinggallah kamu bersama orang2 yang tinggal itu.’. Jika (mereka berangkat bersamamu), niscaya mereka tidak akan menambah (kekuatan)mu, malah hanya akan membuat kekacauan, dan tentu mereka bergegas maju ke depan di cela-cela barisanmu untuk mengadakan kekacauan (di barisanmu); sedang di antara kamu ada orang yang sangat suka mendengarkan (perkataan) mereka. Allah emngetahuai orang2 yang dzalim” (At tawbah: 47-48)

Akan tetapi, jika memang kewajiban mengusung panji jihad (front langsung) begitu memberatkanmu atau begitu sulit engkau realisasikan karena situasi yang menurut anggapanmu sangat sulit, maka dukunglah dan belalah mereka-mereka yang melaksanakan jihad ini. Belalah mereka sekalipun hanya dengan hujjah untuk mendukung mereka (mujahideen)!

Kobarkanlah mukmin yang lain untuk berjihad, ya ikhwatiy…

Dan berjihadlah dengan hartamu untuk jihad (qital) ini. Bukankah harta pun dibutuhkan dalam medan jihad ini? Maka, jika ragamu belum tersampaikan di tanah jihad, maka berjihadlah dengan hartamu.

Sungguh demi Allah, banyak dari ikhwah2 kita yang membutuhkan dana tersebut….terutama mereka-mereka yang telah terjun namun berada di sijn, atau untuk keluarga2 mereka (mujahideen) yang ditinggalkan….atau siapkanlah perbekalan bagi mereka2 yang hendak berjihad…..

tidakkah kita sisihkan sebagain dari rezeki kita untuk mereka? Bukankah ini pun tugas kita, apalagi bagi mereka-mereka yang belum Allah sampaikan ke tanah ribath dan jihad, dan Allah tidak membebani selain menurut kemampuannya.

“Barang siapa menyiapkan perbekalan orang yang berperang berarti telah berperang, dan barang siapa mengurusi keluarga orang yang berperang dengan (baik) berarti telah berperang” (Muttafaq ‘alaih)

“Barangsiapa yang belum pernah berperang dan belum menyiapkan perbekalan orang yang berperang, atau mengurus orang yang berperang, niscaya Allah akan menimpakan bencana sebelum hari kamat” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih dari abu umamah).

Dan bukankah mereka (muajhideen fie sabilillah) itu pun berhak memperoleh zakat dari kita?

“Sesungguhnya zakat itu hanyalah untuk orang2 fakir, orang miskin, amil zakat, yang dilunakkan hatinya (mualaf), untuk (memerdekakan) hamba sahaya, untuk (membebaskan) orang yang berhutang, untuk di jalan Allah, dan untuk orang yang sedang dalam perjalanan….” (At Tawbah: 60)

Bukankah sebagaian besar ulama’2 kita dalam menafsirakan “untuk di jalan Allah” adalah untuk mereka-mereka yang berjihad di jalan Allah?

Ya ikhwatiy fillah…adakah dari kita yang hendak menunaikan transaksi ini? sebatas yang bisa kita lakukan….

Adakah yang hendak melepaskan tanggungjawabnya di dunia ini untuk di hadapan Allah kelak?

dan terus semaikanlah kecintaan kita pada jihad, dan keinginan untuk berjihad….sampai Allah benar2 mengaruniakannya pada kita…karena sungguh keinginan untuk berjihad merupakan perisai agar kita tidak termasuk orang2 yang munafik..

“Barangsiapa mati sedangkan ia belum pernah berperang dan belum pernah terdetik dalam hatinya untuk berperang, maka ia mati pada salah satu cabang kemunafikan” (HR. Muslim dari Abu Hurairah)


Wallahu a’lam bis showab……..semoga Allah memasukkan kita pada golongan orang2 yang berjihad di jalanNya serta mengaruniakan kita kesyahidan di jalanNya…allahumma amiin……..


Sumber;

-Al ‘umdah fie i’dadil ‘uddah–kupas tuntas seputar i’dad dan jihad ; syaikh abdul qodir bin abdul aziz–fakallahu ashroh

-Akhlak Mujahid ; syaikh mujahid abu umar muhammad bin abdillah as saif



By.
Irhaby88

Tidak ada komentar:

Posting Komentar